DESAKRALISASI ILMU
30 December 2007
under: Islam
Oleh : Iswan M Isa
“apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui”
( Al-Qur’an )
“Pengetahuan pada gilirannya lebih dekat kepada kompleksitas eksernal dan terdesakralisasi,khususnya pada segmen - segmen ras manusia yang telah dilibas proses modernisasi” (Sayyed Hossein Nasr).
Bagi masyarakat Tradisional,Allah adalah dasar dari seluruh eksistensi alam,semua semua masalah melibatkan Kehadiran Allah swt karena dalam pandangan Tauhid,permulaan Realitas yang ada adalah Wujud dan Asma Allah yang senantiasa memiliki hubungan pada setiap ke “ada” an atas segala sesuatu.Namun kemudian,segala sesuatu,termasuk ILMU didalamnya di pandang terlepas dari Wujud Primordial,terlepas dari Asma Allah yang merefleksikannya.Menurut Hossein Nasr Pengetahuan pada gilirannya lebih dekat kepada kompleksitas eksternal dan terdesakralisasikan ,khususnya pada segmen-segmen ras manusia yang telah dilibas modernisasi.
Berita salah satu stasiun televisi dalam mengomentari jatuhnya pesawat Adam Air menjelaskan faktor penyebab musibah yang paling besar adalah manusia ( Human Error ) sebesar 50%,kondisi Alam 30%,kondisi teknis 20%.Jumlahnya menjadi 100% yang berarti Allah tidak pernah diperhitungkan lagi dalam menjustifikasi suatu fenomena.Pengetahuan dianggap segalanya yang mampu memperhitungkan secara mutlak,kalaupun terjadi kegagalan dipandang sepenuhnya secara rasional.
Memang,manusia dari salah satu sudut pandang adalah makhluk rasional sebagaimana sering disebutkan dalam semua agama,namun kemampuan dan perluasan rasionalitas manusia dapat menjadi kekuatan dan instrument Setan jika terlepas dari nilai-nilai Essensi Wujud Allahdan terlepas dari visi dan misi penciptaannya sebagai Khalifah yang berasal dari Intelek Ilahi.
“Sungguh ,Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS 2:30)
Inilah awal Intelek Ilahi,Awwalul `Aqal yang menjadi pusat segala
Pengetahuan Suci yang diarahkan untuk mengetahui Yang Ilahi pada diri manusia yang disiapkan sebagai Khalifah dibumi ini.
Hilangnya nilai-nilai Tradisionil ini setidaknya menurut Dr.Baharuddin Ahmad,seorang pengajar di Universitas Sains Malaysia ( USM ) Penang, disebabkan oleh 2 (dua ) faktor utama :
Pertama, adanya pemisahan alam langit dan bumi.Realitas bumi pada masyarakat modern dianggap sebagai realitas obyektif,sedangkan realitas langit dianggap sebagai realitas subyektif.Bagi masyarakat tradisionil ,justru sebaliknya, realitas langitlah yang obyektif dan realitas bumi yang subyektif sehingga Nilai Agama bagi masyarakat tradisionail adalah nilai tertinggi dan sebaliknya logic of technic serta nilai sosial bagi masyarakat modern adalah nilai tertinggi.Inilah yang dikatakan Hossein Nasr bahwa nilai-nilai yang ada sekarang ini,bahkan menurut kami termasuk nilai agama sudah termaterialkan, ter desakralkan, mengalami kompleksitas eksternal yang saling bertabrakan dan menjadi apa yang disebut oleh Yasraf A Piliang sebagai puing - puing Ilmu Pengetahuan yang menurut versi Francis Fukuyama menyebabkan kematian sosial,kematian keragaman budaya, kematian seksual ,kematian agama dan semuanya menjadi titik balik sejarah manusia dan inilah ironi modernitas.
Kedua,dari segi asal usul,menurut masyarakat Tradisional ,Allah adalah dasar atau azas dari segalanya.Manusia modern menganggap manusia adalah dasar dari realitas ini,Tuhan adalah tafsiran manusia atau setidaknya Tuhan hanya pencipta sebagaimana pabrik menciptakan jam yang berjalan sesuai aturan dan terlepas dari pembuatnya,alam dan manusia hanya sebuah “ontologi mikrokosmos manusia” yang terlepas dari asalnya. Masyarakat Tradisionil menganggap justru manusialah tafsiran Tuhan melalui “tipe induk” atau dalam kitab Insan Kamil Ibn Arabi disebut sebagai A’yan Thabita fil Ilmiyyah yang dilingkupi oleh sifat RahimNya.
Oleh sebab itu,apa yang berkembang sekarang tidak lagi mempunyai tipe asal,perkembangan sesuatu hanya puing-puing yang tak bermakna, termasuk dalam nilai-nilai dan pemahaman makna terhadap arti suatu komunitas manusia serta segala interaksinya.
Akibat dari kedua faktor diatas, dengan sadar dapat kita lihat,dapat kita rasakan.Alam tidak saja dieksplorasi bahkan sudah dieksploitasi yang menyebabkan krisis lingkungan,nyawa manusia dan negara dihancurkan tidak masalah yang penting tercapainya keuntungan ekonomi,uang dihabiskan ditengah masyarakat miskin hal biasa yang penting gaya hidup(Lifestyle), kehormatan tidak penting asal terpenuhi hasrat,masyarakat dan agama termarginal kan bukan persoalan,yang penting memegang puncak kekuasaan. Kapitalisasi Agama hal yang lumrah. Al-Quran mengatakan”jangan hiraukan orang yang tidak melalui Asma’ Nya,nanti orang seperti itu akan mendapat azab dengan apa yang dilakukannya” dan mungkin penulis atau kita semua telah terjebak dalam kondisi yang termaterialkan seperti ini tanpa kita sadari.
Pertanyaannya bagaimana kita kembali pada fitrah,asal dan makna ? Bagi kita,sebagai insan beragama ada bebearapa hal yang perlu kita lakukan dan apakah selama ini pernah kita pikirkan,kita perbuat ,kita renungkan dalam setiap langkah kegiatan kita. Menurut Dr.Baharuddin Ahmad ada 2 (dua ) cara untuk memulai merekonstruksi kondisi - kondisi tersebut diatas.
Pertama,dari sisi intelektual, pernahkah kita sebagai masyarakat modern menyisakan waktu untuk belajar atau memikirkan secara konstruktif tentang adanya Yang Absolut dibalik realitas ini dengan memahami berbagai variabel,sistim dan tolok ukur yang menunjukan adanya yang Absolut,Allah swt. Sudahkah kita menyisakan waktu kita yang tersita dalam dunia yang termaterialkan untuk mengingat hakikat kejadian dan hakikat diri kita ? Sudahkah kita menggali benih Kesatuan,benih Tauhid dalam diri kita ? Adakah waktu yang tersisa yang kita gunakan dengan sebaik-baiknya untuk mencari dan membentuk sistim untuk mengembalikan doktrin tradisional ? Berapa banyak waktu dan dana yang kita sisihkan untuk Kalimat Tauhid ?
Kedua,dengan mempertahankan bentuk - bentuk tradisional yang ada.Karena dalam bentuk-bentuk tradisional,misalnya dalam kesenian dan pengetahuan tradisional, terdapat kebenaran abadi atau pernyataan yang Absolut. Dalam Agama kita mengenal Teks Suci (Sacred Text),Al-Qur’an misalnya bagi seorang muslim.Menghormati Teks Al-Qur’an bukan sekedar membaca dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat ritual atau seremonial karena Al-Qur’an adalah petunjuk yang setelah dibaca harus diinterpretasikan dalam dunia nyata yang diistilahkan modern ini.Jika ada Teks Modern,seharusnya merupakan manifestasi dari yang Sacred ,Al-Qur’an. Maksudnya ada suatu azas,ada suatu prinsip,suatu doktrin yang terdapat dipusat Teks tersebut seperti cahaya matahari yang menyinari bulan yang gelap.
Dengan demikian,yang azas tetap hidup,tidak dimatikan dalam hakikat Teks Modern.Pada saat ini kita tidak mempunyai titik pusat.Kita mempunyai tafsir sendiri-sendiri,teks sendiri dan dengan itu berarti mempunyai makna sendiri - sendiri yang dianggap pusat sehingga menciptakan kompleksitas eksternal yang dianggap pusat dan akhirnya klaim terhadap kebenaran sendiri.
Oleh sebab itu,dalam pesan agama selalu “mengingatkan” ( Zikir ) dimana arti ingat adalah sesuatu yang sudah ada,sesuatu yang pernah terjadi,sesuatu yang harus dirasakan .Namun saat ini konsep ingat ( zikir ) bukan menjadi sesuatu yang perlu dirasakan tapi menjadi sesuatu yang sekedar perlu dirayakan.Oleh sebab itu jangan heran dalam beberapa konsep,kapitalisasi agama telah terjadi dalam lingkungan tanpa kita sadari.
Kita harus mulai berpikir bahwa alam dan segala bentuk kesenian manusia adalah Teofani. Maksudnya pancaran dari Tuhan.Maka dengan itu ada suatu konsep sacred form. Setiap form harus sacred,sebab ia merupakan manifestasi dari model awal,dari mode alam Ketuhanan,yang diluncurkan kebumi ( Tajalli ). Setiap Tajalli adalah pancaran dari yang asal,istilah dalam Insan Kamil Ibn Arabi sebagai A’yan Thabita fil Ilmiyyah.Dunia adalah pancaran dari A’yan,dari surga RahimNya. Manusia yang gagal atau tak pernah melihat alam ini sebagai Teofani akan melihat dunia sebagai Surga.Tapi manusia yang percaya dan mau belajar serta memahami,akan melihat alam sebagai Teofani dan manifestasi surga.
Maka,saat ini mulailah kita melihat,kita mendalami the sacred form,the sacred art dan the sacred science sebagai warisan yang harus kita terima,kita kembangkan,warisan yang tanpa wasiat dari nilai - nilai Teofani,dari nilai-nilai Tauhid.
Jika tidak ,berbagai form akan diperoleh sesuka hati yang akan mengarah pada titik ekstrim.Dalam tataran sosial,kita mungkin dapat menangisi seorang bintang telenovela yang mati di Mexico,Hong Kong atau Jakarta yang secara pribadi tidak kita kenal daripada kematian atau kesulitan tetangga disebelah rumah.
Dalam tataran agama,kita mungkin akan melakukan virtual sex dalam dunia maya secara artifisial daripada menikah sesuai tuntunan agama.Dalam tataran kebijakan ,kita mungkin akan terjebak dalam peristiwa insidental dalam pemberian dan penerimaan semu seperti penghargaan kepentingan sesaat, bantuan (sedekah ) dalam bentuk style sebatas kepentingan pencapaian tujuan dengan rekayasa ekspose pada berbagai saluran informasi.Dalam tataran politik,mungkin kita saling berlomba untuk menciptakan kondisi homogenitas budaya ( cultural homogenity ) yang didalamnya tidak ada lagi pilihan lain yang tersedia.
Semua itu, meminjam istilah penyair John Keats,sebagai negative capability untuk melukiskan kemampuan dalam ketidak pastian,misteri,keraguan tanpa capaian yang sensitif pascafakta dan pikiran.Dalam syariat agama,kondisi ini termasuk dalam kategori ria’,ujub,nafaq, kuffar dan lain sebagainya dan bahkan dalam kajian sufi malah digolongkan sebagai syirk khofi…wujud ka zanbi.
Untuk kembali ke asal,kita harus memanifestasikan yang azas,yang hakiki yaitu melaksanakan aktivitas yang benar - benar ada tanda - tanda kepastian.Tanda - tanda kepastian itu ada ditingkat intelektual,ditingkat filosofis.Ia merupakan jalan,yang menunjukan hakikat,menunjukan ada yang benar dan tidak benar,baik dan tidak baik,atau ada nilai dalam setiap pernyataan dan sikap bukan sekedar Kiss of Death.
Menurut Dr.Baharuddin,setiap pernyataan harus berdasarkan salah satu nilai yang tak boleh keluar dari semua nilai.Menurut kami inilah Tauhid yang dalam istilah pengembangan albarakah center membentuk suatu “Tauhid Network Relationship( TNR )” pada semua tataran kebenaran yang terpisah baik secara ontologis maupun teologis.
Selain keyakinan,ingatan dan rasa,hati menduduki tempat yang penting. Karena itu , setiap kalam, definisi dan form(bentuk) harus punya makna.Ular dapat dikatakan ular jika dia mempunyai bentuk ular dan bergerak melata. Ular plastik bukanlah ular sebenarnya.Ular yang tak berfungsi ,bukanlah ular.Jadi dalam setiap bentuk dan kenyataan harus ada makna.Rumah adat Melayu,rumah panjang.
Dayak,ICMI,MUI,PIKI,MABT,MABM,FKPM dan lain sebagainya termasuk Albarakah Center adalah bentuk dan kenyataan dan harus punya makna.Jika tidak ,ia bukan kenyataan,hanya sandiwara kepentingan, sindiran atau bentuk yang tak berfungsi. Memang dalam berbagai disiplin Ilmu atau setiap perbuatan terkandung makna seperti makna sosial,sejarah, budaya,perayaan namun mungkin dialektika dan berubah.
Sejarah misalnya ada yang menyebut sebagai “has written by general winning”, artinya tidak menunjukan makna yang sebenarnya.Supersemar digugat,film G 30 S dinyatakan tidak otentik artinya dalam sejarah ada penyelewengan.Sejarah harus dikaji mencari makna hakiki didalamnya. Perayaan Tahun Baru 2007 dengan pesta atau anak muda kebut-kebutan tanpa baju dan membawa bendera mengelilingi kota yang diguyur hujan ada makna namun apakah hakiki atau relatif.Jadi ,seharusnya kita bisa melakukan penyisihan yang relatif atau useless dari yang abadi atau hakiki.
Bahasa sebagai salah satu Kalam misalnya,dalam bahasa Arab,ibrani dan Aramik senantiasa mengembalikan kata pada asal.Arab dengan turunan bahasa semitik,selalu punya makna asal dari 3 huruf. Ijtihad misalnya dari asal ja ha da. Jadi memang semua manifestasi harus kembali pada manifestasi makna asal secara graduasi dalam koridor dan makna.
Berdasarkan hal - hal tersebut,sudah saatnya kita kembali, bukankah salah satu makna agama adalah kembali,sudah saatnya kita mengadakan reinterpretasi ulang terhadap diri kita masing - masing,sudah saatnya kita ingat tentang asal seluruh keberadaan,dan semua itu dimulai dengan belajar dan belajar. Wallahualam.









