KHALIFAH
30 December 2007
under: Islam
Oleh : Iswan Mohamad Isa
dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malikat :”Aku hendak menjadikan Khalifah di bumi” ( Al-Baqarah 2:30 )
“dan Kami berfirman :” Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain.Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan ( Al-Baqarah 2:14 )
Pada saat Allah mengatakan kepada Malaikat bahwa Allah akan menjadikan Khalifah,Malaikat berkata : “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana,sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu” Jawab Allah :”Sungguh,Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(QS 2:30).
Setelah Adam diciptakan maka Allah mengajarkan semua nama-nama benda kepada Adam dan kemudian Allah berkata kepada Malaikat : “Sebutkan semua nama benda itu jika kamu yang benar” Jawab Malaikat :”Maha Suci Engkau,tidak ada yang kami ketahui selain yang Engkau ajarkan,Sungguh ,Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Adam pun menyebutkan setiap nama-nama yang telah diajarkan Allah.Maka disuruh sujudlah Malaikat dan Iblis menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan kafir.Kemudian Adam disuruh tinggal diSurga (Jannah) dan bebas melakukan apa saja kecuali terhadap satu pohon yang ditentukan Allah,agar Adam jangan menjadi orang yang zalim.
Namun setan memperdaya Adam dan istrinya sehingga dikeluarkan dari surga(jannah) dan Allah berfirman :”Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain.Dan bagimu ada tempat tinggal dan kesenangan dibumi sampai waktu yang ditentukan.Kemudian Adam menerima beberapa Kalimat dari Allah dan Allah menerima Tobat Adam ( QS 2: 31-37)
Dari Firman Allah diatas ,banyak yang dapat kita pelajari dengan mengembangkan pertanyaan - pertanyaan seputar kejadian tersebut. Siapakah yang disebut dengan Khalifah? Darimana Malaikat tahu Khalifah yang akan dijadikan Allah akan membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah? Mengapa Allah menamai ciptaan awalNya dengan sebutan Adam? Mengapa Allah tidak mengajarkan semua nama kepada Malaikat ? Mengapa Adam tinggal di Surga terlebih dulu pada hal Allah menyatakan kepada Malaikat akan menempatkannya di bumi ? Bagaimana kalau Adam tidak memakan buah pohon yang dilarang Allah ? Apa fungsi pohon yang dilarang Allah di Surga ? Apakah Surga yang didiami Adam sama dengan Surga yang dijanjikan Allah kepada kita ? Siapakah Iblis?
Banyak pertanyaan yang tak mungkin diuraikan dalam Bulletin yang sangat terbatas ini padahal didalamnya terkandung makna yang tak terbatas dan kita mencoba mendiskusikan tentang Khalifah walaupun dengan makna yang tidak mencukupi.
Secara umum Khalifah (Inggris:Caliph ) berarti Wakil Allah dibumi dan dalam banyak literatur seluruh keturunan Adam dipersiapkan untuk menjadi Khalifah yang sebenarnya merupakan proyek rahasia Allah.Kerahasiaan tersebut menyebabkan Malaikat yang tadinya tidak pernah bertanya menjadi ingin tahu dan dengan kemampuannya mengetahui sedikit kriteria yang akan diciptakan tersebut sehingga ketika Allah berterus terang akan membuat proyek tersebut Malaikat terusik dan bertanya kepada Allah mengapa harus dilakukan proyek tersebut yang akan merusak bumi. Dalam persepsi dan tafsir lainnya dikatakan pengetahuan Malaikat berasal dari Khalifah jenis lainnya ( golongan Jin ) yang sebelumnya diciptakan dan membuat kerusakan sehingga diperangi oleh Malaikat ” dan tiada Ku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk menjadi abdi ku ” Iblis merupakan salah satu keturunan/golongan Jin yang dikalahkan dan tinggal bersama dunia Malaikat.Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab Iblis tidak mau tunduk kepada Adam karena merasa otoritas keturunannya direbut oleh Adam.
Untuk menunjukan kehebatan dari ciptaanNya tersebut, Allah terlebih dulu telah mengajarkan seluruh nama-nama benda kepada Adam dan dengan pengetahuannya kemudian Adam mendemontrasikan kepada makhluk lain termasuk malaikat yang hanya mengetahui sedikit apa yang telah diajarkan Allah kepadanya.Namun jelas,lebih dari semua itu,Adam tidak hanya diajarkan sekedar nama namun juga makna dan potensi dari nama tersebut sehingga Adam mampu memahaminya.
Nama adalah term yang paling penting karena dapat menunjukan potensi segala sesuatu.”Listrik” adalah sebuah nama dan menunjukan segala sesuatu yang terdapat pada listrik.Demikian halnya dengan Nama Allah, dengan mengetahuinya kita menjadi tahu tentang segala Sifat - Sifat Allah dan secara universal Alam adalah pengejawantahan dari pada sifat Allah ( an - Nur 35 ).
Oleh sebab itu,Adam adalah makhluk yang mampu menerima semua Nama dan semua potensi Allah sedangkan makhluk lainnya hanya terbatas.Kondisi inilah yang menyebabkan Adam( dan juga keturunannya) dipersiapkan menjadi Khalifah dan ini juga yang meyebabkan semua isi alam ditundukkan kepada manusia. Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagi apa-apa yang ada dibumi…(QS 22:65).Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untukmu apa ada dilangit dan apa yang ada dibumi..(QS 31:20).
Adam yang menguasai makna dan potensi dari nama- nama tersebut ditempatkan di Khazanah Allah di Surga (Jannah). Namun dari seluruh potensi yang dimiliknya masih ada yang belum sempurna dan tersembunyi dan hal inilah salah satu maksud yang difirmankan Allah : Janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim (QS 2:35). Ketidaksempurnaan ini dimanfaatkan oleh Iblis yang dendam dengan mengatakan potensi pohon itu mampu membuat Adam dan istrinya kekal disurga ( Lihat QS 20 : 120).
Para mufassir yang melihat secara implisit makna dari sisi lain menyatakan justru kesempurnaan Adam menjadi Khalifah terletak dengan keluarnya Adam dari Surga yang dalam Al-Quran disebut Jannah dimana arti lain dari Jannah adalah tersembunyi sesuai dengan akar katanya “JNN” yang berarti tersembunyi/tidak kelihatan ( akar kata ini sama dengan akar kata “jin” yang berarti makhluk yang tidak terlihat) sehingga dikeluarkannya Adam memperjelas seluruh makna dan potensi dari seluruh nama. Dapat dimisalkan sebagaimana manusia yang mengetahui makna dan potensi telinga yang dimilikinya tapi tidak dapat melihatnya dan untuk melihatnya manusia harus keluar dari dirinya untuk melihat dirinya ( seperti melalui cermin) sehingga dia sempurna mengetahui telinga yang dimilikinya.
Pemahaman ini juga yang membuat mitos Adam dipandang berbeda antara Islam dan Kristen.Islam menganggap keluarnya Adam dari Surga merupakan kesempurnaan sebagai Khalifah ,sedangkan Kristen menganggap sebuah kejatuhan yang menyebabkan adanya dosa asal manusia yang harus ditebus ditiang Salib oleh Yesus Kristus.
Dengan demikian, Adam(termasuk manusia secara umum) mampu menjadi Khalifah karena menguasai segenap makna dan potensi Allah dalam bentuk gradasi dalam makna waktu dan ruang karena sesuai dengan diciptakannya makhluk atas gambaran,bayangan,image daripada Allah. Namun potensi tidak mempunyai arti tanpa eksekusi sedangkan eksekusi berhubungan langsung dengan instruksi dan pemberian instruksi tergantung pada potensi.
Seorang pelayan kantor dapat melaksanakan /mengeksekusi apa yang di instruksikan atasannya namun tidak dapat mengembangkan dan menjabarkan lebih jauh instruksi tersebut karena memang tidak mempunyai potensi sebagai mana atasannya yang memberikan instruksi.
Lain halnya dengan Wakil Manager yang menerima instruksi dari atasannya akan mampu menjabarkan serta mengembangkan instruksi tersebut sehingga eksekusinya bahkan diperluas sesuai dengan visi dan misi atasannya.Orang seperti ini tentu saja dapat dijadikan Wakil bahkan lebih jauh bisa menjadi Duta atau Consul yang berkuasa penuh untuk mewakili atasan nya. Namun,tidak jarang karena potensinya juga instruksi atasannya dapat diarahkan kepada hal-hal untuk menguntungkan pribadinya dengan merekayasa instruksi tersebut.
Apabila seluruh penjabaran instruksi sesuai dengan visi dan misi berarti seorang Wakil Manager telah menundukkan dirinya pada Manager atasannya dan penundukan diri seperti inilah yang disebut dalam agama sebagai Islam yaitu orang yang tunduk pada visi dan misi Allah ,berserah diri terhadap segala perintah dan anjuran Allah dengan sebutan `abd( ) yang dalam bahasa Indonesia disebut hamba atau abdi.
Dengan demikian,posisi atau jabatan Khalifah atau Wakil Allah sangat tergantung pada sikapnya sebagai hamba/abdi dan dalam pandangan Allah sangat dikedepankan sehingga bukan suatu ketakbermaknaan kata abdi selalu mendahului sebagaimana “Muhammadan abduhu wa rasuluh”
“Tidak ada seorangpun dilangit dan dibumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang `abd/hamba” ( QS 19:83 )
Oleh sebab itu ,dalam pengertian hamba dapat diposisikan dalam pengertian pelayan/budak (slave) dan juga dalam makna hamba( servant) yang mempunyai potensi serta mampu melaksanakan eksekusi serta mengembangkannya sesuai dengan tugas - tugas ke-Ilahian yang melekat pada diri seseorang.
Pelayan/budak ( slave ) melakukan sesuatu tanpa suatu kesadaran maksimal terhadap apa yang dilakukan dan cendrung melakukan seenaknya tanpa memikirkan lebih jauh akibat daripada tugas - tugas yang dibebankan kepadanya bahkan dapat dengan mudah menyimpang dari maksud apabila secara nyata dapat menguntungkan pribadinya dan merusak visi dan misi sipemberi instruksi atau kuasanya.Dalam pandangan sosial kemasyarakatan prilaku seperti ini menempati posisi yang paling rendah dalam masyarakat tanpa nilai - nilai ke Ilahian .
Seorang `abd melakukan segala sesuatu dengan potensi dan kesadaran murninya akan segala peran dan fungsi yang dimiliki untuk melaksanakan visi dan misi si pemberi kuasa bahkan cendrung mengembangkan instruksi serta melaksanakan eksekusi yang effisien dan effektif dalam kerangka koridor visi dan misi ke Ilahian.
Dalam konteks kekinian dan tataran kehidupan, apakah kita sudah melakukan eksekusi sesuai dengan instruksi - instruksi ke Ilahian atau menjabarkan instruksi sesuai mandat yang diberikan? Sebagai pejabat sudahkah kita melaksanakan sesuai harapan yang digantungkan oleh instansi yang kita pimpin atau tempat kita bekerja? Sebagai pemimpin apakah kita telah bekerja dalam koridor visi dan misi yang telah ditentukan? Sebagai Wakil Rakyat apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan harapan rakyat yang menjadikan kita Khalifahnya atau dapatkah kita memperluas dan mengembangkan instruksi rakyat yang memberikan dan menunjuk kita sebagai wakilnya? Apakah terselip peluang - peluang pribadi yang selalu kita manfaatkan ?
Jika ya,mudah - mudahan tidak, maka kita tak lebih sekedar budak ( slave ) dan tidak termasuk golongan `abd apalagi untuk menjadi seorang Khalifah.
Allahualam bissawab ?
**************************
Ketika Iblis menjelajahi seluruh tubuh Adam,dia mengetahui makrokosmos dalam semua jejak yang dilihatnya.Akan tetapi,ketika dia tiba di hati,dia mendapatinya seperti sebuah pavilliun .Didepannya,ada dada seperti sebuah alun - alun yang dibangun didepan istana raja.Betapapun sudah berusaha keras mencari jalan masuk menuju pavilliun agar bisa memasuki hati,tetap saja dia tidak bisa melakukannya. Dia berkata kepada dirinya sendiri :”Semua yang kulihat mudah kumasuki.Yang susah justru disini.Jika aku pernah sakit dan menderita,barangkali itu berasal dari tempat ini.Jika Allah mempunyai sesuatu yang khusus atau menyiapkan sesuatu didalamnya,maka hal itu mungkin ada didalam tempat ini”.Diharu biru oleh banyak pikiran,Iblis pun lantas meninggalkan pintu hati dengan perasaan putus asa.
Dikutip dari karangan Najm Al-Din Razi Bab Hati dalam The Tao of Islam, Sachiko Murata,halaman 70





#1 radina on 9 April 2008 8:24 pm
khalifah adalah hamba ALLAH yang merupakan manusia biasa dan tak sesempurna Rasulullah SAW.Khalifah adalah pemimpin umat untuk menerapkan syariat/aturan ALLAH secara kaffah sehingga kehidupan Islam yang sempurna dapat dirasakan oleh semua umat.setiap orang berhak menjadi khalifah.dan perlu diingat,bahwa keberadaan khalifah sangat urgen.buktinya para sahabat menunda pemakaman Rasulullah SAW sampai tiga hari hanya karena memikirkan siapa(khalifah)pengganti Rasul.semoga kekhilafahan akan segera TEGAK dan hukum-hukum Islam yang adil segera DITERAPKAN.itulah harapan sesungguhnya dari kaum muslim
===============================
Betul sekali …. terima kasih atas komentarnya …
#2 Elfizon Anwar on 13 September 2008 2:38 pm
Nomenklatur jabatan yang termuat dalam Al Quran dan merupakan anugerah dari Tuhan Sang Maha Pencipta, Allah SWT pada umat manusia itu, antara lain jabatan khalifah, rasul, nabi, dan wali. Jabatan khalifah secara khusus itu disandang ‘hanya’ oleh Adam As. dan Nabi Daud As. (QS. 38:26). Jabatan rasul ini diberikan oleh Allah SWT tidak saja pada ‘manusia’ tetapi juga pada malaikat, jin dan makhluk-Nya yang lain. Tetapi, jabatan nabi ini istimewa, hanya diberikan kepada makhluk-Nya yang bernama manusia saja, tidak ada buat malaikat dan jin. Oleh karena itu, QS . 33:40 tidak ada menyebut istilah ‘penutup rasul-rasul’ tetapi yang ada hanya ‘penutu nabi-nabi’ yakni Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, tidak akan ada lagi seorang yang bernama manusia yang akan diangkat Allah SWT sebagai ‘nabi’, jadi tidak ada nabi versi baru dan moderen sekarang ini dan yang akan datang sampai akhir jaman. Begitu pula kalau yang akan datang itu, ‘mantan’ nabi, seperti Nabi Isa As. Pada umumnya, manusia yang diberi jabatan rasul, umumnya beliau itu sudah menyandang sebagai ‘nabi’ dan bukan orang biasa walau pun dia seorang raja. Pemberian anugerah ini hak Allah SWT.