MY MIND, MY UTTERANCE AND MY ACTION

Get the Flash Player to see this rotator.

Freedom to Share...
Unlimited Communication and Friendship..

I will be happy..
If I can make the others happy...

AGAMA DAN CINTA

31 December 2007

under: Islam

Oleh : Iswan Mohamad Isa

Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi
Aku ingin dikenal ( dicintai). Maka Aku ciptakan makhluk (Hadits Qudsi).

MaxWeber pernah mengungkap kan bahwa tidak ada masyara kat tanpa agama.Kalau masyarakat ingin bertahan lama,harus ada tuhan yang disembah. Masyarakat dunia dari zaman kuno sampai dewasa ini menyembah Tuhan, walaupun berbagai bentuk dan rumusannya.Agama dapat dalam bentuk konsepsi tentang supranatural, jiwa,ruh, Tuhan atau kekuatan gaib lainnya 1).

Maksud Weber dalam kajian sosiologi ini adalah dalam suatu komunitas masyarakat agar bisa bertahan identitasnya harus ada sesuatu yang diyakini yang disebut sebagai agama yang terbentuk melalui konsepsi atau pemahaman dari adanya suatu kekuatan gaib yang campur tangan dalam komunitas tersebut.
Dengan berubahnya sejarah manu sia dari mitos menjadi logos maka konsepsi terhadap agamapun menjadi berubah. Nilai - nilai yang tadinya dalam bentuk supernatural yang pemahaman dan kepercayaannya disandarkan pada mitos yang tak terjangkau, menjadi pemahaman logos dalam bentuk teks yang didasarkan pada firman atau kitab-kitab suci lainnya.Teks-teks ini dituangkan dalam bentuk yang pasti dan jelas bagi setiap komunitas baik pada Yahudi,Kristen,Islam ataupun Hindu serta Budha.

Terlepas dari konteks historis yang mendasari lahirnya sebuah teks,nilai-nilai yang disampaikan dalam bentuk kalam, apapun bentuk agama yang kita kenal melalui teks-teks sucinya selalu didasari atas suatu nilai sakral yaitu cinta. Teks-teks Kristen selalu berbicara tentang thema cinta “Barang siapa yang tidak mengasihi ,ia tidak mengenal Tuhan 2), selanjutnya Paulus juga menyatakan “Iman,harapan dan cinta kasih dan dari yang ketiganya cinta kasihlah yang utama 3).

Demikian juga dalam teks-teks Islam seperti “adapun orang-orang yang beriman itu,sangat dalam kecintaan mereka kepada Allah 4). Nama-nama Allah (Asmaul al-Husna) juga yang kita kenal dalam Al-Qur’an banyak yang mengandung pengertian cinta terutama Ar-Rahman dan Ar-Rahim dan bahkan dikatakan ayat-ayat dalam pengertian cinta(jamaliyah) lebih banyak 5(lima) kali daripada ayat-ayat tentang keperkasaan( jalaliyah).
Dalam teks-teks sufi kita sering membaca “kuntu kanzan makhfiyyan,fa ahbabtu an u’raf. Fa khalaqtu al-khalqa li kai u’raf “(Aku adalah perbendaha raan yang tersembunyi .Aku ingin dikenal.Maka aku ciptakan makhluq”) yang merupakan teks standar hampir dalam seluruh teks-teks tasawuf yang mengandung makna kecintaan Tuhan kepada manusia.
Dalam konteks dewasa ini,baik dalam tataran global,nasional maupun lokal berbagai tindakan kesewenangan,anarkis,kekerasan dan segala macam bentuk yang mengarah pada kerusakan dan kehancuran selalu hadir ditengah kita,baik secara langsung,melalui media massa serta berbagai informasi yang menggunakan teknologi.Faham-faham seperti sekularisme yang berkembang dan menekankan pada nilai-nilai material yang menghancurkan seluruh nilai-nilai moral dan sakral lebih memperparah kondisi ini.Pertanyaan bagi kita semua,sudah tidak adakah cinta diantara kita? sudah menjadi sekulerkah kita?atau salahkah kita menginterpretasikan teks?
Boleh jadi setiap agama mempunyai pandangan sendiri-sendiri,namun apa yang dimaksudkan Weber dalam konteks keberagaman dewasa ini,kita harus memandang adanya kepentingan dan tujuan yang sama antar pemeluk agama pada tataran ontologis agar yang namanya masyarakat yang mempunyai identitas dapat bertahan lama.Semua agama yang hidup didunia modern ini sedikt banyak berbagi nasib yang sama-sama mempunyai resiko diterpa faham sekulerisme yang merupakan tantangan terbesarnya 5).

Nilai - nilai sekulerisme dapat menghilangkan cinta kasih yang dimiliki komunitas masyarakat dengan memisahkan secara mutlak subyek dan obyek.Sekulerisme adalah suatu tindakan bargaining,suatu komitmen yang bersyarat,suatu investasi nilai material yang dipersyaratkan dalam suatu standar yang ketat yang diatur berdasarkan suatu nilai kontrak.Semuanya itu mengarah kepada penghilangan identitas suatu masyarakat bahkan masyarakat diganti dan dirubah dengan nilai angka.
Untuk memperbandingkan kondisi ini,salah satu gagasan kata cinta adalah dipandang sebagai pemberian yang sepenuhnya,suatu komitmen tanpa syarat yang menandai cinta dengan semacam ekses tertentu.Cinta kasih bukanlah tawar menawar,melainkan pemberian diri yang tak bersyarat;bukan investasi demi masa depan,melainkan komitmen apapun yang terjadi pada masa depan.Suatu dunia tanpa cinta adalah suatu dunia yang diatur berdasarkan kontrak-kontrak yang kaku dan kewajiban yang tak tertanggungkan,suatu dunia yang diatur segalanya oleh para pengacara 6). Pada hal dunia ini masih ada karena cinta,kita masih ada karena cinta,kita hadir dialam fana karena menyaksikan,bukan karena kontrak kita terhadap Tuhan 7).
Sekulerisme berangkat dari interpretasi artifisial yang bersifat obyektif yang memandang alam adalah bagian yang terpisah dari nilai-nilai subyektif sehingga alam dan termasuk manusianya dianggap terpisah secara mutlak.
Keterpisahan ini membuat lenyapnya tujuan,nilai serta kualitas yang diperlakukan terhadap alam termasuk nilai-nilai subyektif kemanusiaan.Alam tidak hanya dimanfaatkan,dieksplorasi bahkan dieksploitasi.Pemisahan tidak hanya pada nilai-nilai materi namun merambah pada dunia intelektual.Para akedemisi exodus kedunia praktis,entah sebagai Politikus,Menteri, Gubernur, Walikota atau Bupati.Dalam dunia Islam,salah satu tanda yang paling memprihatinkan dari mundurnya ummat saat ini,adalah “raibnya para tokoh intelektual,sementara para fuqaha bebas mengatakan apa yang mereka inginkan..8).
Memang perhatian utamanya untuk menopang keabsahan Al-Qur’an sebagai sumber-sumber perintah,namun pada akhirnya yang dihasilkan adalah syariat..9) bukan hakekat kenyataan itu sendiri 10).Bahkan ada kecendrungan yang lebih parah lagi,dimana pada tataran Nasional atau Lokal pemisahan mutlak ini membentuk munculnya “tribalisme” baru seperti berbagai peristiwa di Poso, Ambon,Aceh serta Bali dan Kalimantan Barat yang menyebabkan diskontinuitas dalam masyarakat.Lebih lanjut pemisahan ini terjadi juga dalam pemahaman tentang Realitas yang mengubah kedudukan Subyek dari “user” menjadi “konsumer”11) .
Untuk itu,gagasan lain tentang pemahaman makna agama melalui apa yang kita kenal dengan Tradisi Kearifan(sapiental tradition) adalah salah satu tradisi intelektual yang perlu dikembangkan lebih intens dimana kita tidak hanya dibatasi oleh interpretasi kalam yang bersifat obyektif namun lebih diperluas pada interpretasi kalam yang mengandung nilai-nilai subyektif yang mempunayi signifikansi terhadap nilai-nilai obyektif.Al-Quran sendiri telah menunjukan hal ini dengan menyatakan”dan tidak dapat mengambil pelajaran(dari ayat-ayat mutasyabihat) melainkan orang-orang yang berakal”11).
Untuk membangun suatu komunitas masyarakat yang mempunyai identitas yang mengandung nilai-nilai yang signifikan antara nilai subyektif dan obyektif,menurut Smith sudah saatnya:

“pemeluk keyakinan religius tidak lagi berjalan terus dengan menyisihkan masalah ini dengan salah satu jawaban klise yangb tradisional:bahwa semua agama kecuali agamanya sendiri,salah..jika seorang Kristiani tidak dapat menciptakan sosok diri dan mengungkapkannya secara cerdas dan spritual sebagai seorang Kristiani,bukan hanya dalam suatu masyarakat Kristiani atau masyarakat sekuler melainkan juga didunia;jika seorang Muslim tidak dapat menjadi seorang Muslim didunia;jika seorang Budha tidak dapat memahatkan tempat yang memuaskan bagi dirinya sendiri disuatu dunia tempat orang lain yang cerdas,peka dan terdidik dari Kristiani atau Muslim;jika saya pikir(semoga tidak) kita tidak dapat sama-sama memecahkan pertanyaan intelektual dan spritual yang diajukan oleh agama yang komparatif-saya tidak melihat alasan mengapa seseorang harus menjadi Kristen,Muslim atau Budha…12).
Kutipan dari Kristolog tersebut, jelas menunjukan bahwa makna agama harus teraktualisasikan dan bermanfaat tidak saja bagi penganutnya namun dapat memberikan juga sumbangsih dan manfaat dalam setiap lapisan masyarakat dalam semua tataran agama,suku,ras dan alam semesta dengan segala isinya.Dalam Islam inilah makna “rahmatan lil `alamin” yang diemban manusia sebagai khalifah dimuka bumi untuk menciptakan yang terbaik dalam semua tataran intelektual,spritual serta setiap aktivitas dalam suatu komunitas global yang plural.
Dalam konteks realitas kekinian yang sangat beragam pada tataran ontologis yang sekularis ini, segenap aktivitas hendaknya sesuai sebagaimana yang dimaksudkan oleh Allah swt agar kita”bergerak/menuju dari kegelapan(zulmah) menuju cahaya”13) agar kita dapat membawa nilai-nilai material yang dibungkus nilai spritual sebagai bagian yang tak terpisahkan;agar kita berbuat dan menerima lingkungan apa adanya dan dengan spritualitas sebagaimana harusnya.”Barangkali keragaman,pembedaan dan kebersatuan seperti inilah yang merupakan kehendak Ilahi,menghiasi dunia dengan semacam keindahan yang menakjubkan”..14).
Dan bukankah salah satu Asma Ilahi adalah Maha Pembeda,dan pembedaan sama dengan pemberian eksistensi oleh Allah atas segala sesuatu…15) dan bukankah pada “seluruh alam semesta dan pada diri kita masing-masing terdapat tanda-tanda Allah”…16) dan bukankah dalam konteks Islam status kita “syahidna,Qaalu bala….17) yang hanya sekedar menjadi saksi dari kebesaran Allah swt dan saksi tidak mempunyai otoritas untuk menjustifikasi suatu obyek.Hampir semua literatur agama,filsafat,tasawuf menyatakan bahwa alam semesta merupakan manifestasi atau refleksi dari Tuhan dan oleh sebab itu pandanglah segenap eksistensi sebagai suatu kebenaran yang terpisah dengan melakukan “is like perfume,it benefits the user,the seller,and the buyer …18) Lakukan perbuatan seperti sebuah parfum yang menguntungkan penjual,menguntungkan pembeli dan menguntungkan lingkungan yang dapat manfaat dari keharumannya.
Kesimpulan:
Saatnya interpretasi ulang terhadap seluruh teks keagamaan,terhadap perbedaan lingkungan dimana kita hidup dalam suatu masyarakat majemuk yang agamis dengan memanifestasikan nilai-nilai cinta Ilahi. Memandang dunia didalam sini dan diluar sana dalam suatu bagian yang tak terpisahkan termasuk suku,ras,agama dan sumber daya alam dengan pandangan logis yang berdasarkan referensi teks yang sesuai dengan prinsip-prinsip Ilahi.
———————————————————-

  1. Max Weber,The Socilogy of Religion,tranlated by EphraimFischoff,Beacon Press,Boston,1963, page 13
  2. 1 Yohannes 4:8
  3. Korintus 13:13
  4. QS : 2:165
  5. Sayyed Hossein Nasr,Sufi Essay:Islam and the Encounter of Religions,Kazi Publication,1999.
  6. John Caputo,On Religion,Routledge,2001,hal 5-6
  7. Al-A’raf : 172
  8. Sachiko Murata,The Tao of Islam:a Source book on Gender Relationship in Islamic Thought ,State University of New York Press,1992 hal.23.
  9. Syariat dengan cetak miring adalah tambahan penulis dengan tujuan menegaskan yang dimaksud dengan syariat disini adalah seluruh tindakan dan aktivitas kebijakan yang dilakukan. Contoh dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj (QS:17:1) jelas didalam Al-Qur’an Allah ingin memperlihatkan tanda-tanda kebesaranNya.Ada makna kegaiban pada tataran ontologis maupun teologis dalam peristiwa tersebut sehingga Allah memperjalankan Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa baru kemudian ke Sidratul Muntaha.Artinya bukan hanya dalam makna menerima perintah sholat dalam arti institusional namun juga dalam makna personal.Keterpisahan inilah yang menyebabkan kita harus mengalami pelatihan dan kursus tentang sholat khusyu’.
  10. Mengenai hal ini lihat “Posrealitas Dalam Islam” artikel penulis dalam journal ini.
  11. QS: 3:7 yang menjelaskan ada ayat Mutasyabihat yaitu ayat - ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sudah diselidiki dan dipikirkan secara mendalam
  12. Wilfred Cantwell Smith,The Meaning and End of Religion,Mc Gill,1963,hal.19
  13. QS: 2:57
  14. Kata-kata ini adalah ucapan Plato yang pernah penulis baca,untuk lengkapnya lihat De Christiana Religione,dalam karya Marcilio Ficino.Terjemahan Indonesia,Mizan,2004
  15. Ibnu -Al-’Arabi dalam Futuhat III 296.11
  16. QS:51:21
  17. Al-A’raf : 172
  18. Aaidh ibn Abdullah al-Qarni,Don’t Be Sad,International Islamic Publishing House,Riyadh,Saudi Arabia,2003.hal 37

RSS. TrackBack



3 Comments so far »

  1. #1 RayConcept on 2 September 2008 12:58 pm

    test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test test


  2. #2 abang on 2 September 2008 1:03 pm

    Testtttttttttttt …..test ……test ……test ……test ……test ……test ……test ……test … mmmmmmm …kkkkkkkkkkkkkkkkkk ,,,,,,,, ………………………………………………………………………………………………………………………………… test ,\..


  3. #3 abang on 2 September 2008 1:04 pm

    mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm adalah suatu hal yang mendasari ……test ……………………………………………………………………………………haskcsas ichashccas ihaslihcasch ichhcscas ischaschascas casjhcaosjcas pcasjcojs


Post a Reply


Comments links could be nofollow free.

free web stat
copyright © 2007-present andimujahidin.com
design by RAYCONCEPT Design Division of SNET INDONESIA.
Powered by SNET INDONESIA