Manajemen Percepatan Proyek Jalan Tol Cipularang II: Crash Program and Simple Design
30 January 2008
under: Kilas Balik
Kilas Balik Pembangunan Jalan Tol Cipularang
Inti manajemen percepatan proyek adalah bagaimana menyelesaikan proyek sesuai dengan target yang ditetapkan, yaitu satu tahun dimulai dari april 2004-april 2005, tanpa mengorbankan sepesifikasi mutu yang diisyaratkan. Strateginya adalah menejemen konstruksi yang simple dan cepat dengan material yang mudah didapat, dikombinasikan dengan manajemen proyek yang efisien guna meminimalisir cost over run. Strategi itu disusun sejak proyek dirancang.
Semula jalan tol cipularang direncanakan selesai pada 2006. pembangunan tahap pertama sepanjang 18 km yang sudah diselesaikan juni 2003. ditengah persiapan pembangunan tahap dua sepanjang 41 km, peresiden megawati memerintahkan pembangunan tahap kedua langsung dikerjakan. Perintah itu disampai kan saat meresmikan pengoprasikan jalan tol cipularan tahap pertama awal januari 2005.
Untuk itu peresiden mematok target penyelesaian pertengahan april 2005, agar jalan tol Cipularang sudah bisa dilalui peserta peringatan Konfrensi Asia-Afrika, 21-24 April 2005 di Jakarta, yang hendak melakukan tapak tilas di Bandung pada 24 April. Itu artinya hanya tersedia waktu 12 bulan untuk menyelesaikannya karena untuk tender saja paling tidak butuh 2,5 bulan.
Padahal, dengan kondisi geografis yang jauh lebih berat, melewati banyak bukit dan lembah dalam dan harus membangun empat jembatan tinggi (40-60 m), pembangunan Jalan Tol Cipularang tahap dua kadang didesain untuk dikerjakan dalam dua tahun. Apalagi, investinya sangat besar, sekitar Rp 1,6 triliun atau 3,5 kali investasi jalan tol Cipularang tahap pertama yang “hanya” Rp 488 miliar.
Crash program
Karena itu langkah pertama yang diambil direksi Jasa Marga adalah, memutuskan pembangunan jalan tol Cipularang tahap kedua sebagai carsh program. Untuk itu metode fast track dan design and build yang digunakan dalam pembangunan jalan tol Cipularang tahap pertama kembali diterapkan.
Karena itu empat konsultan perencana yang sudah ditunjuk merancang desain jalan pada Oktober 2003 dengan target penyelesaian Agustus 2004, diminta mempercepat desainnya untuk dijadikan dokumen tender. Karena mustahil membuat detail design dalam waktu hanya dua bulan dipakai sebagai dokumen tender dengan tetap mengacu pada rencana teknis awal.
Basic design itu sudah memuat berbagai acuan teknis yang menjadi pegangan kontraktor seperti trace jalan, radius tikungan, kuantitas galian, timbunan, struktur, elevasi sampai estimasi biaya. Sementara desain detail akan dibuat secara simultan dengan pelaksanaan dan pengawasan proyek. Inilah yang disebut dengan metode design and build.
Metode ini menghendaki komunikasi yang intens antara konsultan perencana dan kontraktor. Apalagi, kalau keduanya tidak berada dalam satu atap (perusahaan). Bila tidak, pengerjaan proyek tidak akan match satu sama lain, boros biaya karena banyak perubahan dalam pelaksanaan di lapangan, dan gagal mencapai target waktu dan spesifikasi yang ditentukan.
Karena itu Direktur Utama Jasa Marga memutuskan mengambil alih langsung penanganan proyek besar ini, dan menunjuk Direktur SDM sebagai project Director untuk memantau, mengendalikan, mengkoordinasikan seluruh elemen yang terlibat dalam pelaksanaan proyek sehari-sehari.Direktur Proyek membawahi pimpro-pimpro yang bertanggung jawab terhadap setiap pelaksanaan paket atau seksi proyek.
Menekan cost over run
Khusus untuk pembangunan empat jembatan tiang tinggi yang memerlukan kontruksi khusus, metode design and build diterapkan secara penuh, dalam arti perencanaan dan kontruksi dilaksanakan oleh perusahaan yang sama. Jadi, kontraktor diberi kewenangan menentukan desain dan nilai paketnya, kemudian dituangkan dalam persetujuan kontrak saat mereka memenangkan tender. Paket lain yang merupakan kombinasi jalan dan jembatan, menggunakan dua system kontrak; kontrak konvesional untuk jalan dan full design and build untuk jembatan.
Keputusan menetapkan jalan tol Cipularang sebagai proyek cash program tentu saja berdampak pada nilai nvestasi. Pasalnya ada pengerahan manusia, peralatan, mdan material dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Selain itu pasti terjadi berbagai penyesuaian akibat penerapan metode design and build dan pendekatan fast track dalam pelaksanaan pekerjaan dilapangan, sehingga cost overrun (peningkatan biaya) tak terrelakan.
Untuk menekan cost overrun itu seminimal mungkin, direksi memutuskan meredesain proyek besar ini. Untuk itu sejumlah pakar jalan dan jembatan diundang memberi masukan. Akhirnya disepakati kesederhanaan desain dan kecepatan pengerjaan yang material yang mudah didapat, menjadi acuan utama desain yang baru. Dengan demikian manajemen konstruksinya pun lebih simpledan efesien. Yang diproitaskan keamanan dan kenyamanan jalan bukan keindahan.
Semula proyek dibagi dalam empat paket dengan nilai investasi Rp1.4 triliun. Namun karena pengerjaannya dikebut menjadi satu tahun, investasi itu membengkak menjadi Rp1.62 triliun. Itu berarti setiap seksi mendapat alokasi Rp400 miliar atau Rp35 miliar per bulan. Padahal, semua kontraktor besar di Indonesia setiap bulan hanya mampu menyerap maximum Rp 15 miliar. Jadi, kalau tetap empat seksi mustahil ada kontraktor yang mampu menyelesaikan proyek dalam satu tahun.
Pengamanan berlapis
Karena itu proyek pun diperluas menjadi sembilan seksi dengan sembilan pimpinan proyek (pimpro), 9 kontraktor / kontraktor joint operation, tiga konsultan manajemen kontruksi, 14 konsultan perencana, dan 27 konsultan pengawas. Setiap seksi di kerjakan secara simultan (bersamaan) selama 24 jam tanpa libur kecuali pada Hari raya idul fitri.
Untuk menjamin pengerjaan sesuai dengan desain, spesifikasi, dan target waktu yang sudah ditetapkan,,jasa marga menerapkan pengamanan berlapis. Pertama, dengan menunjuk sebuah konsorsium konsultan manajemen kontruksi dengan team leader Dan simpkins, ahli asal Australia yang berpengalaman menangani pembangunan jalan di berbagai negara, untuk membantu Direktur proyek mengoordinasikan seluruh unsur yang terlibat dalam pengerjaan proyek.
Di lapangan mereka diwakili seorang field engineer (FE), yang bertugas mengukur dan menghitung kemajuan pengerjaan dan mutu proyek disetiap seksi, sebagai pembanding penghitungan konsultan supervisi .
Kedua, meng-hire konsultan post audit, yaitu puslitbang jalan Departemen Pekerja umum, dengan tugas mengecek secara random kualitas pekerja kontraktor, khususnya untuk pekerja tanah prinsipnya,desain boleh sederhana dan pekerja harus cepat dan efesien, namun mutu kontruksi tidak boleh diabaikan.
Sementara direktur utama jasa marga setiap saat mengunjungi proyek, tak peduli siang malam, hari kerja atau hari libur. Pada tiga bulan terakhir penyerjaan proyek, intensitas kerjanya makin tinggi. Ia makin sulit di hubungi apalagi ditemui. Kalau ada yang harus ditandatangani, mesti dibawa ke proyek.
Contractor Pre-Finance
Bahkan saat-saat kritis menjelang jalan tol beroperasi, pria yang berpengalaman menangani berbagai proyek cash program besar saat bertugas di Direktorat jendral bina marga, departemen pengerjaan umum, itu berkemah di lokasi pekerjaan akhir diseksi dua pasir Honje, kabupater purwakarta, yang sering longsor, guna mengawasi dan memberi instruktur langsung pada para pekerja.
Masalah desain terpecahkan, manajemen proyek dan mekanisme pengawas juga sudah di tetapkan, bagaimana dengan pembiayan? Menyediakan Rp1,6 triliun dalm satu tahun jelas tidak mudah. Apabila, pada saat bersamaan Jasa Marga mengerjakan proyek Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta atau JORR yang juga menyedot dana besar. Direksi pun berdiskusi dengan berbagai pakar keuangan dan sekuritas. Dari diskusi itu kemudian muncul skim pendanaan contractor pre-finance (CPF).
Dengan skim itu Jasa Marga tak perlu keluar uang selama pengerjaan proyek, sehingga beban cast flow minnya bisa lebih ringan. Setiap kontraktor harus membiayai sendiri paket proyek yang dimenangkannya dari pinjaman bank dengan jaminan Jasa Marga. Setelah proyek selesai baru bank Jasa Marga membayar ke bank-bank pemberi kredit. Selanjutnya saat jalan sudah dioperasikan dan menghasilkanm tambahan pendapatan, baru Jasan marga mencicl utang itu selama lima tahun ke banknya.
Akhirnya manajemen percepatan proyek dengan kombinasi desain yang yang simple, pengerjaan yang cepat, kontrol yang ketat,dan skim pembiayaan CPF itu terbukti mampu menuntaskan proyek jalan tol cipularang tepat waktu tanpa mengorbankan mutunya.
Sumber :
Buku Jalan Tol Cipularang : Perjuangan Putra Pertiwi
Tiada Gunung Terlalu Tinggi, Tiada Jurang Terlalu Dalam
PT Jasa Marga (Persero)





#1 emly on 2 April 2008 12:22 pm
tidak ada yang terlalu untuk dilebih-lebihkan di dunia ini… tapi, jujur, saya belum pernah melewati jalan tol cipularang…belum ada waktu, belum ada kepentingan lewat kesitu, tapi saya ingin segera melewatinya,..
=====================
oke deh …kalo lewat hati2 yach …