Bukti Cinta Kepada Rakyat
10 February 2008
under: Leadership
Kisah ini di kutip dari kumpulan kisah-kisah teladan “DIATAS SAJADAH CINTA” yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.
Suatu malan Khalifah Umar bin Khattab ra. Keluar untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia disertai seorang pembantunya.Mereka berdua berjalan di lorong - lorong Kota Madinah. Dikejauhan Umar melihat nyala api.
“Aku melihat ada yang kedinginan. Ayo kita kesana!” kata Umar kepada pembantunya.
Umar dan pembantunya bergegas menuju ketempat api itu menyala. Umar dan pembantunya mendekat. Mereka menemukan seorang wanita dan anak-anaknya yang masih kecil. Anak-anak itu sedang duduk mengitari periuk besar diatas api. Anak-anak itu mengeluh kelaparan.
“Aku lapar Ummi, aku ingin makan Ummi … sudah dua hari aku belum makan dan udaranya dingin sekali. Perutku perih.” Kata seorang anak.
“Kau dan adik-adikmu tunggulah sebentar sampai makanannya masak!” jawab sang ibu menenangkan.
“Kami sudah menunggu sejak sore tadi, kenapa belum masak-masak juga, Ummi? Sampai kapan kami harus menunggu, Ummi?” sahut anak yang satunya.
Ibunya diam saja. Saat itu Umar mendekat dan mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam,” jawab sang ibu.
“Apakah aku boleh mendekat?” Tanya Umar.
“Mendekatlah jika kamu membawa kebaikan. Jika tidak pergilah!”
“Apa yang sedang terjadi disini?”
“Kami sudah dua hari tidak makan, kami kedinginan dan kelaparan!”
Umar lalu mengamati anak-anak yang menangis di sekeliling periuk. Umar bertanya,
” Kenapa mereka menangis?”
“Kelaparan dan kedinginan.”
“Lalu apa yang ada di dalam periuk?”
“Air, agar mereka diam dan tertidur.”
“Apa kau tidak memberi tahu kepada Khalifah Umar?”
“Seharusnya dialah yang harus tahu keadaan kami. Dia punya kuda juga ribuan pegawai dan tentara. Dia seharusnya tidak boleh tidur nyenyak di rumahnya, sementara ada rakyatnya seperti kami yang kelaparan dan kedinginan.”
Mendengar perkataan wanita itu, hati Umar sangat pedih. Wanita itu tidak tahu sama sekali kalau yang ada dihadapannya adalah Khalifah Umar. Dengan cepat Umar langsung pergi mengajak pembantunya ke gudang penyimpanan gandum, Umar mengambil satu karung gandum.
Umar berkata, “Ayo naikkan ke pundakku!”
Si pembantu mencegah dan berkata, “Jangan Khalifah, biarlah saya saja yang memanggulnya!”
Mendengar perkataan pembantunya itu Umar malah marah dan menghardik,”Apakah kamu juga akan memanggul dosaku di Hari Kiamat kelak!”
Sang Pembantu diam tak bisa menjawab. Ia lalu menaikkan satu karung gandum itu ke pundak Umar. Lalu Umar juga menenteng beberapa liter minyak samin. Dengan tergesa Umar lalu berjalan menuju rumah wanita itu. Ia tidak peduli dengna beratnya beban dan dinginnya malam. Begitu sampai, api yang menggodok periuk itu hamper padam. Anak-anak yang menangis sudah sudah tertidur. Umar meletakkan karung berisi gandum itu ke tanah. Juga minyak samin yang di tentengnya. Ia lalu memasukkan beberapa kayu bakar dan meniupnya sampai api itu membesar kembali. Lalu ia keluar sebentar mencari air. Ia menambahkan air ke dalam periuk. Begitu mendidih Umar mengaduknya sampai matang. Ia berkata kepada wanita itu,
“Sekarang bangunkan anak-anakmu untuk makan.”
Anak-anak yang kelaparan itu lalu bangun dan makan dengan lahapnya. Setelah itu mereka bermain-main lalu tertidur kembali dengan nyenyaknya.
Wanita itu berkata, ” Jazakallah khaina, semoga Allah membalasmu dengan pahala yng berlipat ganda!”
Sebelum pergi Umar berpesan, “Besok datanglah kau ketempat Khalifah Umar bin Khattab ra. Beliau akan memberikan hakmu sebagai penerima santunan Negara!”
Pagi harinya wanita itu berangkat ketengah Kota Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin khattab ra. Dan alangkah terkejutnya ketika ia tahu bahwa Khalifah Umar adalah orang yang memanggulkan dan memasakkan roti gandum tadi malam.





#1 eNPe on 17 February 2008 8:34 pm
Subhanallah…
ada file pdf “DIATAS SAJADAH CINTA”? bagi2 donk
————————-
Insya Allah … kita usahakan yach …
I will be happy, If I can make the others happy …he3
#2 rovich on 20 February 2008 9:53 am
walo berulangkali membaca/mendengar kisah ini..selalu saja berhasil membuatku merinding…demikian agung dan bijaknya sang umar…duh andaikan para pemimpin seperti itu…tidak hanya mementingkan fasilitas dan tunjangan…alangkah indahnya dunia….hiks
———————–
Iya vich ..saya juga berharap seperti itu, tapi kapan yach …he3
#3 Fifi on 25 February 2008 9:21 pm
Umm..kalau artikel ini dikirimin ke para petinggi bangsa ini gimana Pak? Mungkin saking sibuknya, jadi pada belum pernah baca artikel bagus ini, hehe..
=================
Ya, petinggi kita lagi sibuk mikirin harta dan jabatannya, jadi gak ingat ada tetangga atau rakyatnya belum makan ……
Tks Fi, atas komennya, selamat berkarya maju terus …