MY MIND, MY UTTERANCE AND MY ACTION

Get the Flash Player to see this rotator.

Freedom to Share...
Unlimited Communication and Friendship..

I will be happy..
If I can make the others happy...

Surga di Telapak Kaki Ibu

22 March 2008

under: Catatan Harian

” … Hari ini aku dirumah aja, duduk aja didepan notebook Pkl. 20.53 wib menyelesaikan kerangka pemikiran pembangunan website Portal Jalan Tol Indonesia. Tiba-tiba terlintas wajah ibu yang sedang sakit di Pontianak, Kalimantan Barat. Yach … Ibu yang telah melahirkan, memelihara dan membesarkan aku dengan air susunya. Maafkan saya Ibu, kasih sayang Ibu tak akan tergantikan oleh apapun juga. Insya Allah bulan Juni saya pulang untuk menjenguk Ibu, sabar ya Ibu … Ini saya kirimkan cerita buat Ibu yang saya ambil dari buku “Diatas Sajadah Cinta” karangan : Habiburrahman El Shirazy …”

Peluk cium dan sembah sujud ananda,

Andi Mujahidin

Surga di Telapak Kaki Ibu

Suatu hari Rasulullah Saw sedang berkumpul bersama sahabatnya di masjid. Tiba-tiba datang seorang laki-laki dan mengatakan, “Assalamu’alaikum!” Rasulullah dan para sahabat spontan menjawab, “Wa alaikum wa rahmatulllah!”

“Duhai Rasulullah, Abdullah bin Salam sakit keras dan sedang sekarat menjemput maut. Dia memanggilmu!” kata lelaki itu. Mendengar itu Rasulullah langsung bangkit.

“Bangkitlah kalian semua, mari kita tengok saudara kita!” ajak Rasulullah pada para sahabatnya. Sampai di sana Abdullah bin Salam terbaring tak berdaya, nafasnya tersengal-sengal. Melihat itu Rasulullah mendekat dan membimbing Alqamah untuk mengucapkan syahadat, “Abdullah, ayo ucapkan Lailahaillallah Muhammadurrasulullah!” Beliau mengucapkan kalimat itu pada telinga Abdullah bin Salam tiga kali. Tapi Abdullah bin Salam tidak bisa mengucapkannya. Mulutnya seperti terkunci. “La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adhim!” kata Rasulullah Saw.

“Bilal, pergilah ke tempat istrinya dan tanyakan padanya apa yang telah diperbuat Alqamah selama di dunia dan apa pekerjaannya!” Perintah Rasul pada Bilal. Bilal langsung pergi menemui istri Abdullah, istrinya mengatakan, “Selama hidup bersamaku, tidak pernah dia meninggalkan shalat bersama Rasulullah. Hampir setiap hari ia memberikan sedekah. Tapi ia sedikit punya masalah dengan ibunya!” Bilal lalu kembali menemui Rasulullah dan mengabarkan apa yang dikatakan istrinya.

Rasulullah langsung bersabda, “Bawalah ibunya kemari!”

Bilal langsung bergegas untuk menemui ibu Abdullah bin Salam. Sampai di sana ibunya bertanya, “Ada apa kau kemari?”

“Anakmu Abdullah sedang sekarat menjemput kematiannya. Aku datang kemari untuk memintakan maaf atas kesalahan kalian berdua dan memperbaiki hubungan kalian,” kata Bilal.

“Aku tidak akan memaafkan kedurhakannya. Ia telah menyakitiku. Aku tak akan memaafkannya di dunia maupun di akhirat!” jawab ibunya tegas. Bilal lalu kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan segala yang dikatakan ibu Abdullah bin Salam. Mendengar keterangan itu Rasulullah bersabda, “Umar, Ali, kalian berdua kembalilah ke tempat ibunya dan bawa dia kemari!”

Tanpa bicara kedua sahabat Utama itu langsung berangkat ke rumah ibu Abdullah bin Salam. Sampai di sana sang ibu bertanya, “Wahai Umar dan Ali, ada apa kau datang kemari?”

“Wahai ibu, Rasulullah Saw memanggilmu,” jawab Umar.

“Untuk apa beliau memanggilku,” kata sang ibu.

“Nanti kau juga akan tahu, yang penting ikutlah kami menemui Rasulullah Saw,” tukas Umar.

Mereka bertiga akhirnya sampai dihadapan Rasulullah Saw yang berada di dekat Abdullah bin Salam yang sedang menanti detik-detik kematiannya. Rasulullah Saw berkata, “Wahai ibu, lihatlah anakmu yang sedang diambang kematian! Maafkanlah dia.”

“Aku tidak akan memaafkannya, baik di dunia dan di akhirat,” kata sang ibu.

“Maafkanlah. Apa kau tidak kasihan padanya, dia sampai tidak bisa mengucapkan dua kalimat syahadat!” kata Rasulullah.

“Bagaimana aku akan memaafkannya. Dia memukulku dan mengusirku dari rumahnya karena mementingkan istrinya.” Sang ibu bersikukuh tidak mau memaafkan dosa anaknya.

Lalu Rasulullah memerintahkan pada sahabat untuk mengumpulkan kayu bakar dan menumpuknya di samping Abdullah.

“Untuk apa Rasulullah?” tanya sang ibu.

“Untuk membakar anakmu! Karena kau tidak mau memaafkan dia,” jawab Rasul. Melihat anaknya akan dibakar hidup-hidup hati ibu Abdullah bin Salam akhirnya luluh.

“Baiklah, demi kebenaran risalahmu duhai Rasulullah, aku memaafkan segala kesalahan putraku!”

Setelah itu Rasulullah mendekati Abdullah bin Salam dan berkata, “Abdullah, ucapkanlah syahadat!”

Mulut Abdullah lalu berkomat kamit dan mengucapkan dua kalimat syahadat dengan jelas. Setelah itu ruhnya berpisah dari tubuhnya.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!” ucap Rasulullah dan para sahabat. Setelah itu jenazah Abdullah dimandikan, dikafani, dan dishalati. Di masjid Rasulullah bersabda, “Wahai kaum muslimin sekalian, ingatlah, orang mementingkan istrinya dan menyia-nyiakan ibunya sehingga ibunya tidak ridha padanya akan terancam mati tidak bersyahadat.”

===============

Begitulah, betapa pentingnya berbakti pada kedua orangtua, terutama pada ibu yang telah susah payah mengandung dan melahirkan ke dunia. Dalam sebuah hadits bahkan Rasulullah Saw bersabda, “Surga berada di telapak kaki ibu”.

Kisah di atas berdasarkan hadits yang diriwayatkan sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Dalam riwayat yang lain nama sahabat yang wafat dan nyaris dibakar oleh Rasulullah Saw itu adalah “Alqamah”.

RSS. TrackBack



10 Comments so far »

  1. #1 Fifi on 23 March 2008 12:04 am

    smoga nenek cepat sembuh ya pak.. :)
    ============
    Amien …Tks Fi …


  2. #2 ddwijono on 23 March 2008 9:27 pm

    Sakit juga merupakan bentuk sapaan sayang dari Maha Pencipta. Mudah-mudahan Ibunda cepat sembuh Bung.
    =================
    Amien Ya Rabbal Alamin, Terima kasih, P. DD atas perhatiannya ….


  3. #3 GADIS RANTAU on 24 March 2008 4:35 pm

    merinding bulu kuduk, membayangkan seandainya dian ini dicap membangkang sama ibu. soalnya dian disuruh nikah, tapi dian menolak, karena pria itu bukan pria pilihan hati. harus gimana nih bang. baca postingan abang, dian jadi bimbang dengan pendirian.
    =======================
    Jika kita bertanya sesuatu yang abadi maka jawabannya adalah kasih ibu, jika kita bertanya soal keichlasan maka jawabannya adalah kasih ibu, dan jika kita bertanya tentang belaian yang bijak maka jawabannya adalah kasih ibu. Tapi jika kita bertanya sesuatu yang paling menakutkan maka jawabannya adalah Murka Ibu.

    Namun dalam menentukan pilihan hati, tidaklah sampai menimbulkan kemarahan seorang ibu atau menolak perjodohan bukanlah berarti melakukan pembangkangan terhadap seorang ibu, karena perjodohan atau pertautan dua anak manusia yang dilandasi tekanan dan paksaan hanya tinggal menunggu keterpurukan. Bicarakan baik2 dengan ibu yach … jangan khawatir … he3 … Ibu yang bijak adalah ibu yang selalu ingin melihat anaknya bahagia …

    Kita tak perlu menjadi orang lain hanya untuk menggenggam sepotong hati, karena cepat atau lambat kita akan kembali pada keadaan semula dan walau dipaksakan kita takkan menjadi orang lain selamanya.


  4. #4 GADIS RANTAU on 24 March 2008 11:06 pm

    siip.thanks to u. mudah2an bunda memahamiku.


  5. #5 Kesehatan gigi on 25 March 2008 3:39 pm

    kasih ibu memang tidak tergantikan dan tidak dapet kita balas sampai akhir hayat. bayangkan saja ibu kita rela menahan sakit yang begitu lama untuk kita, apa salahnya kita berbuat sedikit untuk ibu kita tercinta. kalau diingat kembali apakah ibu akan tinggal diam kalau kita punya masalah? kalau kita sakit apa ibu akan diam saja? kalau kita bokek apa ibu akan diam saja? hehehe mungkin itulah gambaran kekaguman saya terhadap seorang ibu. salut buat pak andi yang masih ingat ibunya. sampai terbawa ke blog, memang pak andi seorang anak yang soleh dan berbakti terhadap orang tua. jarang ada blogger yang berkisah tentang seorang ibu. sukses ya pak andi, walau pun kita baru kenal, semoga bisa menjadi sahabat. :)
    ======================
    Yach …*sambil menghela nafas dalam-dalam* … saya terbayang saja …. saat melahirkan seorang anak, seorang Ibu mengerahkan segenap kemampuan dan tak memikirkan apa yang terjadi padanya, karena ia hanya berharap keselamatan dan kesehatan untuk calon anaknya, bahkan ia rela menukarkan nyawanya untuk buah hatinya tanpa mengharap setitik pamrih apapun …
    Jika kita ingin tahu bagaimana cara membalas segala kebaikan dan kasih sayang seorang Ibu (dan Bapak), maka cukup berbaktilah kepadanya dan jadilah seperti yang ia harapkan dan buatlah ia bangga kepada kita, karena tak ada lagi yang dapat membahagiakannya selain itu …


  6. #6 hakimtea on 27 March 2008 5:53 am

    Bang Andi, saya laki-laki yg pantang menangis dan cengeng bang, sebelumnya memang saya sering baca cerita sejarah alqomah ini, tapi melalui tulisan bang Andi ini saya merasakan effect lain dan tanpa terasa ko mata saya berkaca-kaca ya… *~*

    Ibu…! Saya memang paling menghormati ibu tapi sampai saat ini saya belum bisa membalas jasa ibu… apalagi kalo membaca cerita sejarah lain yang menceritakan seorang sahabat menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dengan jarak ratusan kilometer yang membuat punggung sahabat ini lecet dan berdarah. Ketika sahabat ini bertanya kepada Rasulullah, “Apakah dengan ini saya telah membalas jasa ibu, wahai Rasululallah…?” Rasul menjawab, “Kamu sudah berbuat baik, tapi ketahuilah… kamu tidak akan pernah bisa membalas jasa ibumu…!”

    *makin sedih saja*
    ====================
    Ya begitulah bang hakim, kita memang tidak bisa membalas jasa ibu, tidak sekalipun …oleh karena kita tak akan pernah membalas jasa ibu, maka marilah kita bahagiakan orang tua kita …Bahagiakan dengan cara kita masing-masing …terima kasih bang hakim …


  7. #7 eNPe on 27 March 2008 2:18 pm

    Hiks…jadi basah lagi deh *sambil nyaci2 tisu*
    kalo omongin ibu, ita paling takut banget durhaka ato sejenisnya. malah sering diolok preman tapi anak mami :D biarin deh yang penting selamat dunia akhirat ;)
    semoga ne2k cepat sembuh
    ================
    hmmmmm ..tks itha atas doa nya ….


  8. #8 bintang on 27 March 2008 4:10 pm

    jadi inget mamah di indo…hiks..hiks..kangennnn pengen pulang…btw, aku juga punya buku itu….
    =====================
    Iya mbak bintang, ibu ku lg sakit di kalimantan ..bulan juni aku mo kesana ..tks yach …


  9. #9 maysaro on 27 March 2008 8:29 pm

    Ibu adalh segalanya bagi saya, terkadang ibu rela memendam perasaan hatinya demi melihat anak2nya bahagia. Membaca tulisan Abang saya teringat lagu bang Iwan yang judulnya ‘Ibu’, sungguh lagu yang sangat menyentuh saya, terkadang kalau sedang sendiri bila mendengar lagu itu tidak terasa saya menangis. Saya berdoa semoga kebahagiaan ada pada para ibu. Amin
    ======================
    Ya begitulah, kasih ibu memang tak tergantikan …apalagi yang ortu nya jauh seperti saya …..tks yach dah ngunjungi blog saya …


  10. #10 Bheri on 30 March 2008 1:33 pm

    pantas saja kita diajarkan berdoa ttg ini.
    doa dari ibu : rabbi habli minash sholihin
    doa dari anak : rabbigh firli walialidaiya warhamhuma kama rabbayani saghira.
    =============================
    Alhamdulillah …Tks bang bheri … mudah2an IT di Ponti semakin maju ..


Post a Reply

copyright © 2007-present andimujahidin.com
design by RAYCONCEPT Design Division of SNET INDONESIA.
Powered by SNET INDONESIA