MY MIND, MY UTTERANCE AND MY ACTION

Get the Flash Player to see this rotator.

Freedom to Share...
Unlimited Communication and Friendship..

I will be happy..
If I can make the others happy...

Corporate Sufi : Meditasi Teratur

5 April 2008

under: Leadership

Meditasi membuka pintu bagi pencerahan spiritual.
Meditasi artinya duduk diam, tidak melakukan apa pun, dan mengosongkan pikiran. Dia adalah wahana yang mengizinkan kita untuk menghubungi inti spiritual kita.

Beberapa psikolog berkata bahwa kita memiliki sebanyak 60.000 pikiran setiap hari dan semua ini bisa membuat stress tubuh kita. Meditasi membuat santai dan menenangkan pikiran dari gangguan tanpa henti. Ini dapat dilatih dengan banyak cara, tetapi tujuan utamanya adalah mencapai pencerahan spiritual.

Untuk bermeditasi, kita harus merasa nyaman dengan keheningan. Bagi banyak dari kita, keheningan dapat menjadi pengalaman yang tidak mengenakkan. Mengapa hening itu penting? Kalau kita ingin berhubungan dengan cahaya Ilahi yang menyinari seluruh jagad, maka kita harus bisa memahami cahaya itu. Ini hanya bisa dilakukan dalam keheningan. Berhubungan dekat dengan alam menenangkan kita dan membawa kita pada mood untuk keheningan dan meditasi.

Dunia korporat hanya berisi kerja, kerja, dan kerja! Mengapa kita bekerja begitu keras? Pada sufi berkata berhentilah bekerja dan jangan lakukan apa pun, bahkan berleha-lehalah sejenak. Ketika kita menghabiskan waktu dalam keheningan, kita mendapatkan sudut pandang yang lebih baik atas hidup. Kita akan lebih mampu berkonsentrasi dan mengarahkan semua energi kita untuk mencapai kesuksesan korporat. Pikiran yang tenang adalah pikiran yang kuat. Praktik meditasi akan membantu kita menenangkan diri dan menjadi intuitif, dan akhirnya meningkatkan produktivitas dan kinerja korporat.

Kita perlu mempersiapkan diri dan pikiran untuk meditasi. Kita mempersiapkan tubuh kita dengan tidak merokok, mengkonsumsi narkoba, dan alkohol. Kita berolahraga secara teratur dan makan makanan yang sehat untuk menyiapkan diri untuk meditasi. Kita mempersiapkan pikiran untuk meditasi dengan cara menyadari masa sekarang dan mengeluarkan semua hal dari masa lalu dan masa depan dari benak kita. Semakin kita tenang, semakin besar kemungkinan keberhasilan kita mencapai ini.

Konsentrasi dan fokus adalah hal yang sangat berharga dalam hidup korporat. Mereka mengizinkan kita untuk bisa lebih akurat dan menyelesaikan banyak tugas-tugas penting. Praktik meditasi yang teratur meningkatkan kemampuan konsentrasi kita.
Kalau kita perhatikan seekor laba-laba memintal jaringnya, kita akan bisa menghargai betapa besar konsentrasi yang dibutuhkan untuk melakukan tugas yang rumit itu.

Shibli Yang Agung mengunjungi pakar yang terkenal, Thauri. Sang pakar duduk diam sampai-sampai tak satu pun sehelai rambut yang bergerak. Shibli bertanya, “Dari mana engkau belajar ketenangan semacam itu?” Thauri menjawab, “Dari seekor kucing. Dia mengawasi lubang tikus dengan konsentrasi yang lebih besar dari yang kau lihat dalam diriku!”.

RSS. TrackBack



4 Comments so far »

  1. #1 sapta on 7 April 2008 9:24 am

    yups… meditasi adalah bagai mana membawa kita pada alam bawah sadar kita sebagai sarana menenangkan diri dari mental block kita….

    sepakat juga bang andi… hanya saja ada kontroversi juga bagi yang belum faham meditasi (arti meditasi)[ soalnya kan lebih banyak arah meditasi pada ajaran hindu/budha ya… lupa aku…. ) yang di lakukan …

    mungkin yang pernah ikut rilexasi di mental block untuk quantum ikhlas bisa merasakan keheningan yang melahirkan ketenangan jiwa setelah mengancurkan mental block dari diri…

    :) ntar nyambung lagi bang Andi… nyambi kerja nich hehehe :)
    ====================================
    He3 ..oke deh sap …pake istilah apa aja ..yang penting intinya “menenangkan diri” yach …


  2. #2 zesa on 7 April 2008 12:07 pm

    kadang kita terpaku pada istilah…”meditasi”
    seringkali pengertian malah menghambat proses…
    bayangkan kalau kita memiliki 60.000 pikiran yang harus dikosongkan ? ‘gak kebayang deh…

    jangan pernah berpikir untuk mengosongkan pikiran, karena upaya mengosongkan itu juga sudah merupakan pikiran..

    yang penting…
    bagaimana menyatukan hati dan pikiran dalam Cahaya Ilahi…
    nice post…
    ====================================
    Betul itu … kalo kita kosongin semua ..tar malah gak bisa mikir yach ..he3 ..tks unk …


  3. #3 aditsh on 15 April 2008 11:34 am

    Meditasi, menurut saya adalah sebuah disiplin melepaskan diri dari pengaruh pikiran.Hazrat Inayat Khan seorang sufi India mengatakan bahwa pikiran itu seperti makhluk, yang mengikat kita kemanapun ia pergi. Sang Budha mengatakan bahwa fikiran itulah sumber samsara, alias penderitaan manusia, oleh karenanya manusia harus bisa membebaskan dari pikirannya pada waktu2 tertentu dan membiarkan perasaannya mengalir supaya bisa balans memaknai kehidupan. Dengan berpikir dan memompa kualitas otak kita secara berlebihan akan menimbulkan stres pada mental kita secara berlebihan pula, ini bahaya karena menimbulkan penyakit, baik fisik maupun mental.
    Kata-kata Descartes yang mengatakan Cogito ergo Sum, aku berpikir maka aku ada, gak sepenuhnya benar, karena detak jantung (baca perasaan) lebih dulu ada ketimbang detak pikiran, yang benar adalah detak jantungku ada maka aku ada.
    =================================
    Terima kasih bos, ada tambahan imu dan pencerahan lagi jadinya … memamng ilmu itu kalo gak diamalkan, untuk apa kita mempelajarinya …


  4. #4 andi nurhadi on 29 September 2008 4:31 pm

    inti nya mencari “ketenangan” , terkait dg yg nama nya “rasa”, ada perbedaan antara merasakan dan dirasakan, dlm hal ini ISLAM jg ada mengajarkan yg nama nya perenungan atau tafakkuh atau i’tikab, apa yg kt dapat adlh hasil dr pengalaman/perjalanan bathin (ghaib), tp ingat keghaiban itu ada 2 ; ada GHAIB ONTOLOGIS = ghaib tataran horizontal/tataran bawah termasuk catagorie merasakan, tdak ada kaitan dg TUHAN, kemampuan individu. ada GHAIB THEOLOGIS = ghaib tataran vertikal dlm hal ini kt di berikan petunjuk, ilham, tanda, dirasakan, sehingga kt mendapatkan ketenangan. sebagai seorang muslim kt ingin mendapat yg nama nya ketenangan atau jiwa yg tenang (muthma’inah) itu hasil dr “dirasakan” bukan “merasakan”. bukan dari mengkondisikan/membentuk/merekayasa “suasana” , utk membentuk rasa yg kt inginkan (GHAIB ONTOLOGIS), jadi di dalam hal ini yg kt cari sebagai orang muslim adalah “GHAIB THEOLOGIS”, ketenangan secara agama(KETUHANAN). AGAMA sudah pasti SPRITUAL, SPIRITUAL blm tentu AGAMA.
    ===================
    Belum sampai kesana … pada tataran filosofis ini hanya mengupas tentang sufi kantoran …he3 ..


Post a Reply


Comments links could be nofollow free.

free web stat
copyright © 2007-present andimujahidin.com
design by RAYCONCEPT Design Division of SNET INDONESIA.
Powered by SNET INDONESIA