Pencerahan
3 May 2008
under: Islam
” dan dialam semesta ada tanda-tanda ( Allah ) bagi orang yang yakin,dan dan juga dalam diri kalian.Apakah tiada kamu perhatikan..” ( QS :51:20-21 ).
Segala sesuatu dialam semesta adalah tanda-tanda Allah dan dalam beberapa teks pada Al-Quran, Allah mengharuskan kepada kita bagaimana sebaiknya kita menyikapi tanda-tanda, seperti mengingat,memahami,merenung,bersyukur dan lain sebagainya yang intinya bagaimana kita menggunakan akal dan perasaan kita untuk merefleksikan pesan-pesan Allah dalam bentuk yang sangat terbuka.Tanda sebagai pesan-pesan adalah informasi.
Bagi kita informasi sebagai informasi itu sendiri tidaklah penting.Yang penting adalah kualitas-kualitas yang dipahami dalam fenomena dan tipe hubungan-hubungan yang kemudian dibentuknya.
Berbicara mengenai kualitas-kualitas dalam memahami sebuah teks sebagai aspek material sebuah tanda setidaknya ada 2 unsur pokok yang terlibat dan saling membentuk hubungan yaitu yang memberikan tanda dan yang memahami tanda.Jadi dalam penafsiran sebuah teks,disamping aspek material yang obyektif dari sebuah tanda maka diperlukan lagi aspek immaterial yang subyektif dari pencipta tanda dan yang memahami tanda.
Memang dalam hal ini secara konseptual dan logic sangat mudah untuk diingat tapi tidak mudah untuk dipahami karena tidak dapat dibuktikan secara empiris karena hal ini menyangkut masalah persfektif dan tentunya siapa saja dalam dirinya sendiri dapat membuat suatu persfektif. Dalam konteks agama,selain Allah (ma siwa Allah) sebagai pemberi tanda, adalah sebuah teks,tanda,citra,image dan kita sebagai subyek yang memahami tanda (kritikus,mufassir) yang menterjemahkan tanda membuat suatu persfektif untuk memahami berbagai kualitas dan tipe hubungan yang dibentuknya dengan batas-batas yang telah ditentukan.
Alam termasuk manusia didalamnya dalam makna yang luas adalah sebuah teks sekali gus sebuah interpretasi sistim persfektif untuk melahirkan inspirasi baru yang seharusnya terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.Interpretasi tersebut mengenai kualitas-kualitas teks dalam hubungan yang terbentuk baik dalam semesta maupun dalam setiap individu sehingga kemaslahatan manusia pada tataran sosial budaya dapat dibentuk.
Namun,fakta dalam dunia nyata diera globalisasi dan posmodern serta posrealitas saat ini,hubungan dan kualitas beragama terutama dalam konteks sosial budaya masih masih perlu dikembangkan.Dalam konteks ini,lemahnya pemahaman teks,kualitas serta pola hubungan yang membentuk kualitas dan interpretasi sistim persfektif dalam setiap ummat beragama menyebabkan kualitas yang terbentuk belum sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu,menjadi tugas kita semua untuk interpretasi ulang terhadap teks-teks keagamaan yang menyangkut hubungan sosial budaya serta pengembangannya untuk meningkatkan tingkat kualitas bersama.
Bibliografi:
• Huda,Nurul SA, Cakrawala Pembebasan, Fajar Pustaka Baru,Yogyakarta,2002
• Murata,Sachiko,The Tao of Islam:A Sourcebook on Gender Relationship in Islamic Thought, State University of New York Press,1992
• Safi,Omid, Progressive Muslims,on Justice,Gender,and Pluralism,Oneworld Oxford Publication,2003




