Amanah Jabatan
3 June 2008
under: Leadership
Ketika Khalifah Utsman bin Affan mengutus kurir ke negeri tetangga untuk menjalin hubungan persahabatan, Umi Kaltsum, istrinya, menitipkan bingkisan minyak wangi untuk istri raja negeri itu. Pulangnya, si kurir ganti membawa titipan bingkisan balasan dari istri raja berupa mutiara. Melihat kiriman tersebut, Utsman yang terkenal karena kedermawanan dan katakwaannya itu langsung menyitanya dan menyimpannya sebagai kas baitul mal.
”Kalau kau bukan istri khalifah, engkau tidak mungkin akan mendapatkan bingkisan ini,” kata khalifah kepada istri yang dicintainya itu. Umi Kaltsum bersikeras, bingkisan itu adalah hadiah balasan pribadi dari istri raja. Utsman membenarkan, tapi pengirimnya menggunakan fasilitas khilafah. Langkah itu, menurut Utsman, adalah ilegal, bisa menimbulkan preseden buruk, serta merupakan contoh yang tidak bagus bagi pejabat lain.
Utsman yang menjabat sebagai khalifah lebih memilih menjaga ketakwaan diri dan istrinya daripada menukarnya dengan bingkisan duniawi yang tidak seberapa. Karena bagi dia, pada dasarnya jabatan yang diembannya adalah amanat dari Allah, yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.Tentang menjaga takwa ini, Rasulullah SAW mengingatkan, ”Seseorang tidak akan sampai pada tingkatan takwa sebelum rela meninggalkan hal-hal yang sepertinya tidak apa-apa, tetapi dapat menimbulkan apa-apa.”
Agar tidak teperdaya oleh fasilitas jabatan dan tidak tertipu oleh syetan lewat cobaan duniawi, Allah SWT menuntun hamba-Nya agar hidup qana’ah (merasa cukup) dengan harta benda yang dimilikinya. Dengan qana’ah akan tumbuh rasa syukur, dan dari rasa syukur inilah timbul sifat kedermawanan yaitu rela memberikan sebagian harta yang dimilikinya untuk disedekahkan kepada orang lain. Sebaliknya, jika tidak ada sifat itu, maka yang akan muncul adalah sifat bakhil, egois, dan kufur nikmat.
Kehati-hatian terhadap fitnah jabatan, diiringi sifat qana’ah dan syukur, dapat mengarahkan setiap keluarga mukmin terhindar dari perbuatan korupsi, menumpuk harta yang tidak jelas kedudukannya, berbuat curang, dan terjaga dari keinginan menggunakan fasilitas pemerintah untuk kepentingan pribadi. Rasulullah SAW memberi peringatan, ”Jagalah dirimu dari berbuat zalim, karena berbuat zalim akan merupakan kegelapan di hari kiamat. Dan jagalah dirimu dari sifat bakhil, karena kebakhilan itu mendorong manusia menumpahkan darah dan menghalalkan segala cara yang diharamkan Allah.” (HR Muslim). [Ahmad Zaki Arba ].










#1 Aki2-NgeBlog on 4 June 2008 6:34 am
Jabatan juga bisa diibaratkan Baju. Bila kita mengenakan Baju maka yang harus kita perhatikan adalah bagaimana kita menjaga supaya tidak kotor, tidak terkena noda dan supaya selalu bersih dan rapih saat kita kenakan. Baju bisa sewaktu waktu kotor dan juga sobek, bahkan bila diperlukan kita juga harus mengganti Baju tersebut ! Nah bila sudah pakai Baju yang PAS, janganlah kita “sombong” dan “lupa diri” karena suatu saat kita harus dan wajib melepaskan Baju yang PAS tersebut karena tidak ada yang ABADI selain Perubahan ! Salam
==================
Hmmmm …*sambil manggut2 serius mendengarkan* … cucu mengerti aki … tks atas petuahnya aki …hue he he
#2 oRiDoâ„¢ on 4 June 2008 8:56 am
qanaah… sifat yang bertolakbelakang dengan sifat manusiawi (atau setani?
).. karena manusia pada umumnya selalu merasa tidak cukup dengan apa yang didapat..
semoga kita semua termasuk dalam golongan orang2 yang selalu bersyukur..
===============
Amin Ya rabbal Alamin ..Tks dah berkunjung dan memberi komen yg sejuk …
#3 Billah on 6 June 2008 2:04 pm
jabatan = amanah…hrs hati2 menjalankannya…klo ngaco wahhh bisa bahaya
===============
Hmm ..iya Bil, mesti hati2 … thx yach