MY MIND, MY UTTERANCE AND MY ACTION

“Ngaku Merdeka Kok Bodoh”

19 August 2008

under: Artikel

Oleh : dr. Andri Kusuma Harmaya

http://eharmayaku.blogspot.com

Pemenang II Lomba Uji Nyali 2008

Memaknai Arti Kemerdekaan RI di Masa Kini

Saat saya sedang menunggu kapal fery di pelabuhan menuju ke Terusan Tengah, sebuah desa terpencil di Kalimantan Tengah tempat saya bertugas sebagai dokter PTT, saya berbincang-bincang dengan seorang lelaki setengah baya yang baru saja pulang dari Banjar Baru, Kalimantan Selatan bersama anak perempuannya. Lelaki tersebut sedang mencarikan sekolah untuk anaknya yang tahun ini baru saja lulus SMA.

“Wah, sekolah sekarang mahal dok!”, bapak tadi membuka pembicaraan.

“Lho…mahal gimana Pak?”, tanya saya sambil menghisap rokok Wismilak.

“Coba lihat ini dok…masak mau kuliah D3 saja mesti keluar duit sampai 10 juta per tahun!’, kata bapak tadi sambil menyodorkan rincian biaya dari sebuah akademi keperawatan di Banjar Baru. Saya mengamat-amati rincian biaya tadi. Di situ memang tertulis nominal 10 juta-an per tahun untuk D3 Keperawatan dan bahkan untuk D3 Farmasi mencapai 14 juta-an per tahunnya.

Padahal, saat saya masih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, uang SPP per semesternya cuma 482.500 rupiah.

Sampai-sampai Rektor kami waktu itu menyebut universitas yang dipimpinnya sebagai universitas paling murah sedunia. Dan kenyetaannya, menurut saya, memang demikian.

Bagi pegawai di kota, jumlah 10 juta mungkin bukan masalah besar. Tapi bagi petani kecil-kecilan seperti bapak tadi, untuk mendapatkan uang sebesar itu seperti halnya berenang dengan gaya kupu-kupu mengarungi Selat Sunda. Bisa sih, tapi berat.

Dari rona mukanya, terlihat jelas bahwa bapak tadi berkecil hati tentang masa depan pendidikan anaknya. Terus terang, saya tidak tega melihat wajah anaknya. Anak yang mungkin memiliki tekad yang luar biasa untuk melanjutkan sekolah itu kini nasib pendidikannya di ujung tanduk dan tinggal sedikit lagi terjerembab ke jurang yang dihuni oleh teman-teman seusianya yang sekarang sedang menjadi buruh tani, dan bahkan sudah ada yang beranak pinak. Sungguh miris.

Petani di Terusan tengah panen hanya sekali dalam setahun. Katakanlah hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan makan satu keluarga selama setahun penuh. Berarti harus mencari penghasilan tambahan untuk keperluan selain makan. Uang tambahan bisa didapat dengan dua jalan: memancing ikan atau merantau saat jeda menunggu panen tiba. Saya pernah berjumpa dengan orang yang per harinya bisa menangkap ikan sebanyak 4-5 kg dan bila dijual harganya mencapai 28.000-40.000 rupiah. “Tapi tergantung musim jua pang…kalau pas paceklik ikan penghasilan bisa turun”, tutur orang tersebut.

Uang tambahan bisa juga dicari dengan merantau, misalnya menjadi tenaga buruh bangunan dengan upah harian 50.000 rupiah atau menjadi buruh tambang di perusahaan-perusahaan asing. Intinya, mencari uang 10 juta dimungkinkan, asalkan mendapatkan ikan per harinya 5 kg atau menjadi buruh bangunan selama setahun penuh danĀ  tentu saja, jatah merokok dikurangi. Pelajaran moral yang bisa ditarik dari situasi ini: bila ingin menyekolahkan anak hingga sarjana, jangan jadi petani di Terusan Tengah.

Mamad, Karjo, Icik dan Gendrik adalah pemuda harapan bangsa dari Terusan Tengah. Mereka adalah para tamatan SMP. Icik bahkan tidak tamat SD. Ijazah pendidikan mereka tentu tidak laku untuk melamar kerja di perkantoran. Tahukah Kawan, mereka memiliki siklus kerja yang itu-itu saja tiap tahunnya: menanam padi, kemudian merantau, kemudian panen, kemudian menanam padi lagi, begitu seterusnya.

Mereka merantau ke luar kota untuk menambah penghasilan. Ambil contoh Gendrik. Sepulang dari merantau dirinya mencari-cari saya, tujuannya hanya satu: memamerkan handphone barunya. Handphone buatan Finlandia itu memiliki dering polifonik dan didalamnya sudah diisikannya dengan video mesum yang diperankan oleh pelajar SMA.

Indonesia memang telah merdeka dari kolonial Belanda sejak 63 tahun yang lalu, tapi banyak dari saudara-saudara kita yang masih terbelenggu oleh kebodohan.

Situasi ekonomi yang sulit menjadi penyebab mengapa para pemuda harapan bangsa yang seharusnya bisa bersekolah ke pendidikan yang lebih tinggi harus membanting tulang untuk menyambung hidup mereka. Bahkan, di antara mereka ada yang menjadi kuli di perusahaan-perusahaan asing yang dimandori oleh tuan-tuan dari Amerika dan Australia. Mereka menjadi kuli, di tanah air mereka sendiri.

RSS. TrackBack



6 Comments so far »

  1. #1 mriza on 19 August 2008 7:50 pm

    Wah…
    Lama ndak kunjungan ke blog bang andi, tau-tau udah berubah..
    en pake maenan sIFR lagi…Mantep dah :D
    ===========
    Ah Riza .. abang pulang ke Ponti, nyari Riza gak ada he3


  2. #2 mike on 19 August 2008 11:16 pm

    baca2 tulisannya pak dokter…
    prihatin juga saiya dgn kondisi yg seperti ini..biaya pendidikan mahal..
    dan setiap tahun akan terus bertambah mahal..jd siapa yg salah dsni?
    pemerintah?hhmm…
    =============
    Tidak ada yang salah … tapi pemerintah hrs bertanggung jawab …


  3. #3 firdaus on 20 August 2008 2:20 pm

    wah, bang.. saya baca tulisan ini… jadi mau promosiin.
    Supaya tulisan pa dokter ini jadi JUARA UMUM gimana.
    He..he..he.. *keputusan dewan juri kan tidak dapat diganggu gugat yah.*

    Tapi ada alasannya bang. Yang utama karena, bentuk tulisan naratifnya..
    menurut saya.. punya pesan yang sangat berwujud “BLOG”. Dari cerita,
    ditulis, lalu bisa diambil pelajaran. Bukankah seperti itu seharusnya sebuah tulisan itu.

    He.he. selayang pandang aja ya bang. Yang pasti pilihan juri semuanya muantebs dah…

    *kok, kiriman rekeningnya wendra belum nyampe2 juga ya. Atau dari pak dokter aja gitu yah. hi..hi..hi..*
    ====================
    He3 gpp Fir .. semua bisa berpendapat … dan sah-sah saja …
    Tentu saja Juri juga gak ujuk-ujuk milih he3 … yakin deh …
    Semua tulisan yang masuk itu baik ….Tapi juri harus
    menentukan yang terbaik dengan sudut pandang yang diyakini …
    Oke deh .. Tks Fir


  4. #4 Father of Three on 20 August 2008 10:14 pm

    menurut saya ini yang terbaik… tapi keputusan di tangan dewan juri… hehehe… salam.
    ===================
    Yup … keputusan panitia bersifat mutlak he3


  5. #5 enhal on 24 August 2008 11:34 pm

    yah beginilah nasib dan kondisi kita abang..mau dibilang apa lagi
    ========
    Iya nih ..jadi prihatin, jadi apanya yang merdeka yach


  6. #6 ririn on 26 August 2008 9:21 am

    huakakaka… yang ini aku udah bacaaa… jadi komentar langsung di blog aslinya,hihihi…
    ===================
    yeee ..yang ini agak beda nihhh …


Post a Reply




Comments links could be nofollow free.

  • Asal Usul

  • Posting Terbaru

  • Komentar Terbaru

    free web stat
    copyright © 2007-present andimujahidin.com
    design by RAYCONCEPT Design Division of SNET INDONESIA.
    Powered by SNET INDONESIA